Way Kambas Video Trap

Enjoy the Way Kambas National Park endangered mega fauna and other rare wildlife species caught in video. Find mother and baby of Sumatran rhino, challenging young male Sumatran tiger, big family of Sumatran elephant, funny Malayan sun-bear and curious Malayan tapir.

Way Kambas: The Best Asian Night Birding

It was written by Janos Olah & Attila Simay in Birding Asia magazine, on 2007. Not only the great variety of the otherwise scarce and hard to-come-by species is what makes this national park world-famous, but also the relative ease in finding them. No other place in sumatra that has 4 species of Frogmouth.

Wednesday, March 14, 2018



Way Kambas; Bukan Tempat Wisata Biasa

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan segenap pesona alam dan keragaman satwanya, rupanya tak hanya mengundang para wisatawan, para pelajar dan peneliti pun silih berganti berdatangan. Bukan sekedar jadi tempat wisata hidupan liar yang menarik, TNWK pun merangkap sebagai laboratorium alam yang sempurna bagi para ilmuwan untuk mempelajari dan menggali lebih jauh potensi kekayaan alamnya yang cukup untuk mewakili ekosistem hutan dataran rendah di Pulau Sumatera. Pesona dan keunikan yang dimiliki TNWK telah menarik mata dunia, hingga mendatangkan puluhan pelajar asal Southern Cross University (SCU) Australia yang tergabung dalam grup Wildlife conservation volunteering.

Aksi Volunteering di TNWK 
Sebelumnya, para volunteer turut serta dan mendukung upaya konservasi gajah sumatera di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK dengan menggalang dana untuk membangun fasilitas penunjang, seperti bak minum, kandang gajah indukan, kanal pelindung kandang gajah anakan dan demplot pakan. Selain itu mereka juga mendirikan beberapa menara pantau di desa penyangga serta di areal demplot pakan gajah. Hal ini menjadi bukti serta dukungan terhadap upaya konservasi di TNWK yang masih menjadi harapan utama bagi dunia untuk tetap lestari dan menjadi rumah bagi satwa liar di dalamnya.

Menengok Mutiara Desa, Penyokong Konservasi di TNWK

Tak melewatkan kesempatan, para volunteer mengunjungi desa penyangga Braja Harjosari yang kini telah menjelma menjadi destinasi wisata yang banyak diminati wisatawan, terumata mancanegara. Tentunya kunjungan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat.


Dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya dimulai pada tahun 2013, Braja Harjosari memang telah menjadi salah satu ‘mutiara desa’ yang menyokong konservasi di TNWK, bersama dengan Konsorsium ALeRT-Unila dalam program TFCA-Sumatera. Sejak saat itu, desa yang akrab disebut Braja H tersebut telah menampakkan ‘kilaunya’ dimata dunia pariwisata. Melalui paket wisata khas pedesaan Indonesia yang juga kental dengan adat budaya Lampung-Bali, Braja H berhasil menciptakan magnetnya sendiri untuk menarik wisatawan lokal maupun internasional. Tak hanya itu, wisata Desa Braja H pun menawarkan pesona bentang alam yang menawan serta berbatasan langsung dengan kawasan TNWK nan kian memesona mata wisatawan. Kini, bukan hal baru lagi bagi masyarakat setempat dengan banyaknya kunjungan wisatawan asing termasuk para pelajar SCU ke desa mereka untuk sekedar menikmati keunikan kampungnya.

Pengambangan wisata di Desa Braja H ini merupakan alternative untuk mengangkat ekonomi masyarakat desa penyangga TNWK secara kreatif dengan memanfaatkan potensi wilayah yang ada. Berkembangnya wisata desa di Braja H akan menjadi model sekaligus impuls yang memicu kreativitas masyarakat desa penyangga lainnya, mengingat TNWK berbatasan dengan 37 desa penyangga.

Dengan terus berkembangnya wisata desa penyangga, kini pesona TNWK kian bertambah. Dengan bertambahnya perhatian dunia terhadap TNWK, diharapkan dapat menjadi kunci untuk meraih tujuan utama ‘menjaga kelestarian ekosistem yang ada di dalamnya’. Terlepas dari segala potensi, keindahan, dan keunikannya, TNWK masih menyimpan banyak hal untuk dipelajari, serta dilindungi.
Posted in , ,

0 komentar :

Post a Comment

Berikan saran atau kritik yang membangun untuk website ini
Terimakasih