Way Kambas Video Trap

Enjoy the Way Kambas National Park endangered mega fauna and other rare wildlife species caught in video. Find mother and baby of Sumatran rhino, challenging young male Sumatran tiger, big family of Sumatran elephant, funny Malayan sun-bear and curious Malayan tapir.

Way Kambas: The Best Asian Night Birding

It was written by Janos Olah & Attila Simay in Birding Asia magazine, on 2007. Not only the great variety of the otherwise scarce and hard to-come-by species is what makes this national park world-famous, but also the relative ease in finding them. No other place in sumatra that has 4 species of Frogmouth.

Thursday, March 5, 2020




Oleh Rizky Novia Sari - Wildlife Warrior

Terimakasih atas pengalaman dan ilmu serta kebaikan-kebaikan yang sudah saya terima, Saya Rizky, ini waktunya saya bercerita tentang keluarga baru saya: ALeRT.

Dua bulan menjadi peserta magang di Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dalam program WILDLIFE WARRIOR-TFCA Sumatera, banyak pengalaman yang didapatkan selama mengikuti agenda ALeRT. Mulai dari kegiatan-kegiatan utama ALeRT, sampai dengan hal-hal tak terduga yang meninggalkan kesan tak terlupakan. 
Kedatangan saya disambut dengan baik oleh staf-staf ALeRT yang sangat friendly, humoris dan suasana kekeluargaan yang sangat terasa. Personil ALeRT berjumlah 26 orang terdiri dari 8 staf kantor dan 18 staf lapangan yang disebut RMU (Rhino Monitoring Unit) (2 tim trajectory dan 2 tim camera trap). Kegiatan Tim RMU terdiri dari survey trajectory dan pemasangan camera trap untuk memperoleh informasi keberadaan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di TNWK. Kegiatan survey dan monitoring dilakukan 1 sampai 3 kali trip dalam waktu satu bulan dengan durasi 5 sampai dengan 7 hari. Survey dan monitoring badak sumatera adalah salah satu program utama ALeRT saat ini.

Sebelum melakukan survey dan monitoring badak, terlebih dahulu mengajukan permohonan Surat Perintah Tugas (SPT) di Kantor Balai TNWK. Setelah itu tim harus membuat rencana survey (ROP) berdasarkan peta kerja, mulai dari keberangkatan sampai dengan pulang. Perencanaan tersebut bertujuan agar kegiatan survey dan monitoring yang dilakukan lebih terjadwal dan terarah. Selama magang, saya sudah pernah mengikuti rangkaian kegiatan suplai air. Suplai air dilakukan karena kondisi di hutan yang masih kekeringan akibat kemarau panjang. Saat mengikuti kegiatan tersebut saya menjadi tahu bagaimana kondisi tim di hutan saat kemarau dan kekurangan air (Gambar 1.).

Gambar 1. Kegiatan suplai air untuk kegiatan survey dan monitoring


Kegiatan survey dan monitoring yang dilakukan oleh tim terdiri dari survey trajectory dan pemasangan camera trap. Survey dilakukan untuk memperoleh tanda-tanda sekunder keberadaan badak seperti jejak, bekas pakan dan kotoran. Pemasangan camera trap bertujuan untuk mengidentifikasi dan memontoring satwa secara terus-menerus tanpa mengganggu keberadaan serta aktivitas satwa. Tim RMU melakukan pemasangan camera trap berdasarkan temuan tanda-tanda sekunder badak selama survey trajectory. Kondisi populasi badak sumatera sangat mengkhawatirkan, sampai saat ini ALeRT sedang terus berusaha untuk menemukan tanda-tanda keberadaan badak sumatera.

Setelah selesai melakukan kegiatan survey dan monitoring, tim membuat laporan database hasil temuan selama dilapangan dan mengidentifikasi jenis-jenis satwa yang tertangkap camera trap. Saya sangat excited ketika melihat harimau dan satwa-satwa lain yang tertangkap camera trap  (Gambar 2.). Laporan database dan identifikasi hasil camera trap diserahkan ke staf database untuk selanjutnya data diinput dalam SMART Patrol. Saya banyak belajar mengenai SMART Patrol bersama staf database untuk menganalisis data hingga menghasilkan output berupa laporan SMART Patrol. Laporan SMART Patrol diserahkan kepada pihak Balai Taman Nasional Way Kambas.

Gambar 2. Kegiatan analisis hasil camera trap

Kegiatan lain yang telah saya ikuti di ALeRT yaitu inisiasi rencana pengelolaan kegiatan wisata minat khusus di TNWK. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperkenalkan paket wisata yang berada di TNWK dan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif dalam mendukung wisata yang berkelanjutan di desa penyangga. Setelah inisiasi, kemudian dilakukan uji coba paket wisata minat khusus. Kegiatan uji coba ini memperkenalkan kepada saya akan potensi-potensi yang berada di TNWK yang begitu indah dan memiliki keunikan tersendiri. Paket wisata yang ditawarkan saat uji coba yaitu Edukasi Gajah di ERU (Elephant Response Unit), kunjungan ke PLG (Pusat Latihan Gajah), Reforestasi Bambangan, birdwatching serta pengamatan satwa dan Susur Sungai Way Kanan (Gambar 3.). Setiap kawasan konservasi memilki keunikan tersendiri termasuk TNWK. Menurut saya paket wisata yang ditawarkan di TNWK sangat unik dan edukatif. 

Gambar 3. Kegiatan birdwatching 

Menjelang minggu terakhir saya di ALeRT, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengecekan camera trap di Resort Rawa Bunder bersama tim kolaborasi RMU-ALeRT dengan Rhino Protection Unit (RPU)-YABI. Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari dengan jumlah stasiun sebanyak 16 stasiun camera trap. Kegiatannya terdiri dari pengecekan kondisi kamera, kondisi baterai, penggantian card memory, setting camera trap, pengukuran jarak dan ukuran objek sasaran di depan camera trap sampai dengan pemasangan camera trap kembali (Gambar 4.). 

Gambar 4. Kegiatan pengecekan camera trap

Banyak pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan selama mengikuti kegiatan ini, salah satunya menjadi navigator dalam mencari titik camera trap yang telah terpasang sekaligus membuka jalur. Rasa-rasanya seperti mencari harta karun saat kami mencari titik keberadaan camera trap. Kami juga harus melewati beberapa anak sungai dengan batas kedalaman sampai dengan bahu dan arus yang lumayan deras. Di hari pertama kami melakukan pengecekan 6 stasiun dengan kondisi pakaian yang basah karena kami harus menyeberangi beberapa anak sungai dan melewati genagan-genangan yang kami temui (Gambar 5). Luarr biasaa!!

Gambar 5. Kondisi rona lingkungan di sekitar lokasi pengecekan camera trap

Di hari pertama juga kami dikejutkan oleh salah satu staf RMU yang hampir hanyut saat menyeberangi anak sungai dengan arus yang cukup deras. Awalnya kami menganggap hanya bercanda karena orangnya memang sangat humoris sering bercanda (ngeprankk). Saat dia benar-benar akan hanyut dan meminta tolong “ hee heee tenan iki aku kanyuttt...tulungg caaaaah” seketika kita menariknya ke tepi, konyol sekaliii wkkwkwkk...Keseruan lain saat dilapangan, ketika diantara kami ada yang tersandung ataupun terjatuh karena akar atau semak, anggota tim lainnya seperti bunyi suara bell yang otomatis akan berbunyi dan menghitung ”satuu, duaaa, tigaaa, empaaat,...” dan seketika kami yang terjatuh akan langsung bergegas untuk berdiri. Gokiil sih, jatuh bukannya ditolong tapi malah dihitung wkwkwkk. Gurauan dan candaan selama berjalan mencari camera trap sangat mengobati lelah kami. Ada saja hal yang buat kami bisa tertawa selama dilapangan. 

Rasa kekeluargaan yang sangat terasa selama saya berada di ALeRT. Waktu sore hari setelah saya dan tim selesai mengidentifikasi hasil camera trap, saya mendapatkan kabar duka bahwa bude saya telah meninggal dunia. Sontak saya tidak bisa membendung kesedihan saat mendengar kabar tersebut. Saat itu juga staf yang masih berada dikantor mengantarkan saya menuju rumah untuk bertakziah. Jika teringat hal itu saya sangat terharu dengan mereka yang sudah menganggap seperti keluarga sendiri. Hal lain yang membuat saya speechlees, saat saya dan staf lapangan bermain di PLG (Pusat Latihan Gajah) ada insiden terceburnya hp milik saya heheee.... Saat itu kami sedang duduk dipinggir kolam gajah sembari menunggu gajah-gajah yang akan mandi. Ada salah satu rekan yang meminta untuk pindah tempat, sontak kami berdiri daaaannnnn... terjunlah hp ke kolam gajah dari kantong celana. Tanpa berfikir panjang mereka pun menyelami kolam gajah yang berwarna coklat dan lumayan banyak kotoran gajah, walaupun pada akhirnya hp tidak dapat terselamatkan heheee....

Terimakasih banyak untuk seluruh staf ALeRT Way Kambas yang sudah seperti keluarga sendiri. Terimakasih atas pengalaman dan ilmu serta kebaikan-kebaikan yang sudah saya terima. Saya berharap semoga lembaga-lembaga konservasi yang ada terutama ALeRT, tetap semangat menjaga, melindungi dan melestarikan hutan beserta isinya agar anak cucu kita dapat menikmatinya. Semoga dengan adanya kami Wildlife Warrior bisa membantu upaya konservasi hutan Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Salam Lestari!






































Thursday, February 13, 2020


Oleh Resti Ati Lestari


Awal Januari 2020 merupakan suatu hari yang sangat membahagiakan bagi saya karena saya diberikan kesempatan oleh Pundi Sumatera untuk dapat mengikuti kegiatan magang dalam program TFCA Wildlife Warrior.  Saya mendapatkan lokasi penempatan magang di salah satu mitra TFCA-Sumatera yang bernama ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu).  Sebelumnya saya dan teman saya sempat merasa takut dan canggung saat pertama kali tiba di kantor ALeRT, tetapi saya sangat bersyukur karena kami disambut baik oleh staff ALeRT.  Orang-orang yang berada di ALeRT sangat friendly, dan  welcome dengan kehadiran kami.

Selama saya menjalani kegiatan magang disini, banyak sekali kegiatan yang saya ikuti salah satunya adalah program kerja ALeRT di bidang ekowisata.  Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Tim ekowisata ini adalah Uji Coba Wisata Minat Khusus di Taman Nasional Way Kambas yang diselenggarakan oleh Konsorsium Unila-ALeRT pada tanggal 31 Januari-3 Februari 2020

Banyak rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dan dipersiapkan sebelum kegiatan ini berjalan salah satunya yaitu melakukan koordinasi dengan tim ekowisata dan pemandu wisata melalui rapat fiksasi Kegiatan Uji Coba Paket Wisata Minat Khusus di Rumah Konservasi, Dusun Margahayu. Selesai rapat fiksasi, saya bersama dengan yang lain menuju ke Homestay untuk melakukan pengecekan homestay untuk peserta selama kegiatan ini berlangsung.  Malam harinya, saya ikut menyiapkan semua daftar nama peserta yag hadir, waktu kedatangan, pembagian homestay, berita acara, dan melakukan konfirmasi kehadiran dan kesediaan peserta.

Tanggal 31 Januari 2020, hari pertama kegiatan uji coba ini adalah registrasi peserta dan briefing (Gambar 1). Peserta yang hadir pada hari pertama kegiatan berjumlah 13 orang dan pemandu berjumlah 12 orang.  Peserta yang datang dengan menggunakan kendaraan umum dijemput oleh pemandu yang bertanggung jawab menjemput peserta di pasar Tridatu, kemudian membawa peserta untuk berkumpul pada metting point yang telah ditentukan sebelumnya yaitu Homestay Bela (Labuhan Ratu IX).  Setelah semua peserta berkumpul, masing-masing pemandu yang telah ditunjuk untuk mendampingi peserta mengantarkan peserta ke masing-masing homestay yang telah disediakan.

Gambar 1.  Kegiatan Briefing Bersama Peserta

Pada hari kedua, saya melakukan kunjungan ke Elephant Response Unit (ERU) Margahayu (Gambar 2), Reforestasi Bambangan dan Pusat Latihan Gajah.

Gambar 2.  Kunjungan ke Elephant Response Unit (ERU) Margahayu

Aktivitas yang kami lakukan di ERU Margahayu adalah mendengarkan pemaparan tentang sejarah terbentuknya ERU, diskusi bersama dengan Tim ERU yang biasa menangani konflik antara gajah dengan manusia. Di ERU, kami berkesempatan bertemu dengan salah satu gajah ERU bernama Rendi dan kemudian para peserta ikut memandikan dan memberikan makan gajah (Gambar 3).

Gambar 3.  Memberikan Makan Gajah Rendi

Selanjutnya kami melakukan kunjungan ke Reforestasi Bambangan (Gambar 4).  Di areal reforestasi tersebut kami melakukan penanaman 30 bibit pohon (Gambar 5).  Jenis bibit yang ditanam diantaranya adalah ketapang (Terminalia cattapa), medang (Cinnamomum sp), jambon (Neolamarckia cadamba), sirsak (Annona muricata), salam (Syzygium polyanthum), dan lamtoro (Leucaena leucocephala).

Gambar 4.  Kunjungan ke Reforestasi Bambangan 

Gambar 5.  Penanaman Bibit Pohon di Reforestasi Bambangan

Kunjungan terakhir kami adalah menuju Pusat Latihan gajah.  Disana kami pergi untuk mengunjungi ladang pakan gajah, kunjungan ke kandanga gajah kecil, memberikan pakan gajah (Gambar 6), dan melihat gajah dimandikan (Gambar 7).

Gambar 6.  Peserta Memberikan Makan Gajah

Gambar 7.  Melihat Gajah Mandi di Pusat Latihan Gajah

Hari ketiga, kami melanjutkan uji coba paket wisata birdwatching yang dilakukan disepanjang jalur Way Kanan (Gambar 8).  Kegiatan dimulai sejak pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB.  Hal ini dikarenakan waktu ideal untuk melakukan Birdwatching adalah pada pagi hari sekitar pukul 06.00-09.00 atau sore hari sekitar pukul 15.00-17.00 dimana pada waktu-waktu tersebut burung-burung sedang dalam keadaan aktif mencari makan.  Selama melakukan kegiatan birdwatching, terdapat beberapa jenis burung yang kami temui seperti burung pelatuk merah (Banded woodpecker), burung cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), burung cinenen merah (Orthotomus sericeus), burung srigunting hitam (Black drongo), paok panca warna (Javan banded pitta), burung malkoha (Phaenicophaeus) dan Tupai tiga warna (Callosciurus prevostii).





Gambar 8.  Kegiatan Birdwatching di Sepanjang Jalur Way Kanan

Selesai melakukan birdwatching, kegiatan dilanjutkan ke paket wisata susur sungai Way Kanan sekaligus pengamatan satwa liar.  Kegiatannya dimulai dari dermaga Way Kanan hingga daerah yang disebut Kalibiru. Terdapat beberapa satwa yang kami temui seperti buaya muara (Crocodylus porosus) (Gambar 9),

Gambar 9.  Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Sungai Way Kanan

serta jenis-jenis burung seperti Sriti (Collocalia esculenta), Cekakak sungai (Todiramphus chloris), Pelatuk sayap merah (Picus puniceus), kokoan laut (Butorides sriatus) (Gambar 10), elang ikan kepala kelabu (Ichtyophaga ichtyaetus) (Gambar 11) , Cangak laut (Ardea sumatrana) (Gambar 12).

Gambar 10.  Kokoan Laut (Butorides sriatus)


Gambar 11.  Elang Ikan Kepala Kelabu (Ichtyophaga ichtyaetus)

Gambar 12. Cangak laut (Ardea sumatrana)

Tanggal 3 Februari 2020, adalah hari terakhir dari rangkaian kegiatan uji coba paket wisata minat khusus di TNWK. Aktivitas yang dilakukan di hari terakhir ini adalah mengantarkan peserta yang pulang dengan kendaraan umum ke tempat pemberhentian bus dan kemudian melakukan evaluasi bersama dengan koordinator kegiatan, tim ekowisata dan pemandu membahas tentang kegiatan yang telah dilakukan.

Selama 4 hari terlibat dalam kegiatan ini, saya merasa kegiatan ini memberikan pengalaman dan juga kesan yang baik.  Selama kegiatan, saya banyak belajar bagaimana menghadapi orang-orang dengan berbagai karakteristik, banyak belajar tentang birdwatching dan pengamatan satwa liar.  Hal yang paling berkesan adalah ketika saya mengikuti kegiatan susur sungai way kanan.  Saya dapat berjumpa dengan ayam hutan (Galus galus) ketika perjalanan menuju dermaga Way Kanan (Gambar 13) dan semua excited ketika berjumpa langsung dengan buaya muara sepanjang 4-5 meter dan berbagai jenis burung yang ada di sepanjang sungai yang disusuri.

Gambar 13.  Ayam Hutan (Galus galus)

Harapan saya sebagai seseorang yang pernah ikut terlibat dalam kegiatan ini adalah kedepannya bisa diselenggarakan lagi kegiatan wisata minat khusus ini dengan diikuti oleh peserta yang terpilih dan lebih berkompeten di bidangnya sehingga akan lebih banyak masukan yang membangun untuk kemajuan ekowisata di Taman Nasional Way Kambas.

Monday, April 9, 2018


 
Taman Nasional (TN) merupakan suatu kawasan yang keberadaannya tak lain adalah untuk mewujudkan kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tujuan pembangunan suatu TN secara umum adalah untuk melindungi proses ekologis yang menunjang kehidupan, mengawetkan keanekaragaman ekosistem, spesies dan genetik yang terdapat di dalamnya serta memanfaatkan potensi sumberdaya alam hayati untuk kepentingan penelitian, pendidikan, penunjang budi daya, rekreasi, dan pariwisata. Dalam tujuan tersebut keberadaan dan peran masyarakat sekitar menjadi komponen penting sebagai penyokong tercapainya kegiatan konservasi di TN.

Upaya perlindungan yang dilakukan pemerintah terhadap suatu kawasan konservasi telah melahirkan berbagai kebijakan dari waktu ke waktu, tata pengelolaannya pun mengalami perubahan menyesuaikan kebijakan yang berlaku. Seperti perubahan dari kawasan pelestarian alam, kemudian menjadi kawasan suaka marga satwa, dan beralih menjadi taman nasional. Perubahan sistem tersebut mengarah kepada pembatasan terhadap akses sumber daya alam hayati dan ekosistem yang ada dalam suatu kawasan. Perubahan tersebut rupanya tak melulu membawa dampak positif, tetapi juga menimbulkan permasalahan. Mulai dari pro kontra masyarakat sekitar dengan pihak pengelola, yang berimplikasi pada pengelolaan TN menjadi kurang efektif, hingga kabar konflik yang terjadi antara manusia dengan satwa. Permasalahan tersebut juga terjadi di kawasan koservasi, Taman Nasional Way Kambas (TNWK).



Pemasangan sirine sebagai alat deteksi dini keberadaan gajah di areal pertanian


Konflik antara gajah dan manusia (KGM) di TNWK telah lama terdengar dan masih terjadi hingga saat ini. Perebutan ruang gerak dan palatabilitas gajah diperkirakan menjadi salah satu faktor penyebab terus terjadinya konflik ini. Kondisi dan letak TNWK yang dikelilingi dan berbatasan langsung dengan 37 desa penyangga turut menjadi faktor meningkatnya frekuensi KGM di TNWK. Masyarakt desa penyangga yang sebagian besar bermatapencaharian sebagian petani harus selalu siaga dan memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian ketika hasil panen yang mereka andalkan telah habis dilahap gajah. Penghalauan dengan peralatan tradisional pun telah
dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk menjaga tanaman mereka dari gangguan gajah. Pembuatan kanal, pengadaan peralatan jaga, pembuatan gubuk jaga, hingga patroli malam hari diperbatasan kawasan masih belum bisa menyelesaikan permasalah ini.

Pemasangan drum putar di jalur aktif gajah menuju areal pertanian




Ditambah lagi dengan maraknya aktivitas illegal dan kebakaran hutan yang terjadi sepanjang tahun di TNWK mengakibatkan degradasi hutan terus ada, bahkan bisa saja semakin meluas, jika tanpa mitagai khusus. Permasalah-permasalahan tersebut kritis dan membutuhkan perhatian serta penanganan intensif. Melalui dukungan dari SIES-Australia, ALeRT bekerjasama dengan Balai TNWK melakukan mitigasi terhadap adanya kebakaran. Selain itu, terkait aktivitas illegal di dalam kawasan, ALeRT melakukan pendataan temuan aktivitas illegal bersamaan dengan kegiatan survey dan monitoring badak sumatera yang didukung oleh TFCA-Sumatera. Pendataan tersebut meliputi jenis aktivitas yang ditemukan, koordinat lokasi, dan intensitas ancaman. Dari data tersebut akan dipetakan dan menjadi rekomendasi lokasi patroli prioritas. Berbagai jenis temuan aktivitas illegal tersebut meliputi aktivitas perburuan berupa jerat satwa, alat memancing, penebangan pohon, gubuk, dan masyarakat yang mengambil rumput di dalam kawasan. Berbagai aktivitas illegal tersebut turut menjadi potensi yang menyebabkan kebarakaran hutan di TNWK, selain luasnya area yang terdegradasi oleh rumput ilalang.

Selama tahun 2015-2017, bersama dengan pihak BTNWK, ALeRT telah melakukan total 7 kegiatan patroli di perbatasan antara TN dan desa Rantau Jaya Udik II untuk memantau aktivitas illegal yang terjadi disekitar kawasan. Pada awal tahun 2017, tim patroli menemukan dan menghancurkan sekitar 25 jembatan kayu di perbatasan TN yang digunakan oleh masyarakat untuk keluar masuk kawasan TN. Berdasarkan temuan tim patroli, penduduk desa Rantau Jaya Udik II memasuki TN untuk mencari pakan ternak, menggembalakan ternak mereka, berburu, memancing, dan mencari burung. Perambahan TN juga dilakukan oleh masyarakat untuk digunakan untuk menanam makanan ternak (Laporan Kegiatan Triwulan VI ALeRT, 2017).


Sosialisasi dan penyadartahuan mengenai pentingnya kelestarian hutan Way Kambas
Upaya melindungi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem TNWK akan sukar dicapai jika faktor utama yang menyebabkan degradasi hutan dan perburuan tidak ditangani. Keberadaan masyarakat di sekitar kawasan TN menjdai tokoh utama yang tidak dapat diabaikan dalam upaya melestarikan dan melindungi TN. Oleh karena itu, sejak 2015, ALeRT bersama dengan otoritas dari TNWK telah membantu masyarakat di desa Rantau Jaya Udik II dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan membantu masyarakat dalam mengurangi konflik manusia-gajah. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan termasuk sosialisasi kepada masyarakat tentang pelarangan kegiatan ilegal dan pentingnya perlindungan habitat dan keberadaan satwa liar di TNWK, bantuan dalam deteksi dini gajah liar dan pembangunan pos penjaga untuk memantau gajah liar . ALeRT dan TNWK juga melibatkan masyarakat di desa Rantau Jaya Udik II dalam kegiatan reforestasi dan mitigasi kebakaran di dalam TNWK.

Sebelumnya, dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat desa penyangga TNWK, berlatarbelakang konflik gajah-manusia, konsorsium ALeRT-Unila yang juga didukung oleh TFCA-Sumatera melakukan penyadartahuan dan mengembangkan Wisata Desa di desa penyangga Braja Harjosari pada tahun 2013. Desa wisata dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat, dengan asumsi bahwa ketika masyarakat sejahtera, maka kelestarian hutan akan terjaga. Dengan mengangkat potensi desa yang ada, terutama dari segi bentang alam dan budaya, kemudian dikemas dalam paket wisata sederhana namun berkelanjutan, mengubah desa yang rawan konflik menjadi destinasi wisata yang edukatif dan ramah lingkungan.

Melihat pada Desa Braja Harjosari, pengembangan ekonomi alternative dirasa perlu juga dilakukan di Desa Rantau Jaya Udik II dan desa penyangga lainnya. Karena hingga saat ini, kebutuhan ekonomi masih menjadi latarbelakang utama ketergantungan masyarakat pada sumber daya alam TNWK.  Upaya meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat, harus diiringi dengan ide kreatif yang berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat. ALeRT terus berupaya menggali dan mengembangkan potensi yang ada di Desa Ranta Jaya Udik II, dan dalam pelaksanaanya upaya tersebut tidak serta merta mendapatkan hasil positif, kerja keras dan upaya yang telah dilakukan selama ini tetap membutuhkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak.
Degradasi habitat di kawasan TNWK oleh vegetasi ilalang (Imperata silindrica)
AleRT Bersama masyarakat bergotong royong memasang sirine deteksi dini gajah
Pemasangan drum putar untuk mencegah gajah memasuki areal pertanian warga

Wednesday, March 14, 2018



Way Kambas; Bukan Tempat Wisata Biasa

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan segenap pesona alam dan keragaman satwanya, rupanya tak hanya mengundang para wisatawan, para pelajar dan peneliti pun silih berganti berdatangan. Bukan sekedar jadi tempat wisata hidupan liar yang menarik, TNWK pun merangkap sebagai laboratorium alam yang sempurna bagi para ilmuwan untuk mempelajari dan menggali lebih jauh potensi kekayaan alamnya yang cukup untuk mewakili ekosistem hutan dataran rendah di Pulau Sumatera. Pesona dan keunikan yang dimiliki TNWK telah menarik mata dunia, hingga mendatangkan puluhan pelajar asal Southern Cross University (SCU) Australia yang tergabung dalam grup Wildlife conservation volunteering.

Aksi Volunteering di TNWK 
Sebelumnya, para volunteer turut serta dan mendukung upaya konservasi gajah sumatera di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK dengan menggalang dana untuk membangun fasilitas penunjang, seperti bak minum, kandang gajah indukan, kanal pelindung kandang gajah anakan dan demplot pakan. Selain itu mereka juga mendirikan beberapa menara pantau di desa penyangga serta di areal demplot pakan gajah. Hal ini menjadi bukti serta dukungan terhadap upaya konservasi di TNWK yang masih menjadi harapan utama bagi dunia untuk tetap lestari dan menjadi rumah bagi satwa liar di dalamnya.

Menengok Mutiara Desa, Penyokong Konservasi di TNWK

Tak melewatkan kesempatan, para volunteer mengunjungi desa penyangga Braja Harjosari yang kini telah menjelma menjadi destinasi wisata yang banyak diminati wisatawan, terumata mancanegara. Tentunya kunjungan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat.


Dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya dimulai pada tahun 2013, Braja Harjosari memang telah menjadi salah satu ‘mutiara desa’ yang menyokong konservasi di TNWK, bersama dengan Konsorsium ALeRT-Unila dalam program TFCA-Sumatera. Sejak saat itu, desa yang akrab disebut Braja H tersebut telah menampakkan ‘kilaunya’ dimata dunia pariwisata. Melalui paket wisata khas pedesaan Indonesia yang juga kental dengan adat budaya Lampung-Bali, Braja H berhasil menciptakan magnetnya sendiri untuk menarik wisatawan lokal maupun internasional. Tak hanya itu, wisata Desa Braja H pun menawarkan pesona bentang alam yang menawan serta berbatasan langsung dengan kawasan TNWK nan kian memesona mata wisatawan. Kini, bukan hal baru lagi bagi masyarakat setempat dengan banyaknya kunjungan wisatawan asing termasuk para pelajar SCU ke desa mereka untuk sekedar menikmati keunikan kampungnya.

Pengambangan wisata di Desa Braja H ini merupakan alternative untuk mengangkat ekonomi masyarakat desa penyangga TNWK secara kreatif dengan memanfaatkan potensi wilayah yang ada. Berkembangnya wisata desa di Braja H akan menjadi model sekaligus impuls yang memicu kreativitas masyarakat desa penyangga lainnya, mengingat TNWK berbatasan dengan 37 desa penyangga.

Dengan terus berkembangnya wisata desa penyangga, kini pesona TNWK kian bertambah. Dengan bertambahnya perhatian dunia terhadap TNWK, diharapkan dapat menjadi kunci untuk meraih tujuan utama ‘menjaga kelestarian ekosistem yang ada di dalamnya’. Terlepas dari segala potensi, keindahan, dan keunikannya, TNWK masih menyimpan banyak hal untuk dipelajari, serta dilindungi.